Efek Narkotika Jenis Baru Mengerikan

0
113

MANADO—Data BNN Sulut menunjukkan ada 1.030 orang terlibat narkoba selang tahun 2015-2017 (April). Padahal Badan Narkotika Nasional (BNN) sudah me-warning, agar masyarakat menjauhi barang gelap ini, karena efeknya sangat mengerikan bagi kesehatan pengguna. Bisa mengakibatkan kematian.

 

Misalnya, tembakau gorila atau super cap gorilla, ini jenis narkoba terbaru dengan efek mematikan yang baru-baru ditemukan oleh Polri dan BNN. Berjenis Synthetic Cannabinoid (kandungan zat AB-Chminaca). Memiliki efek toksik dan halusinogen. “Seorang yang menghisap tembakau gorilla ini akan merasakan halusinasi seperti tertimpa seekor gorilla. Membuat otak lemot, tidak nafsu makan, lemas dan sukanya tidur. Dalam pemakaian yang lama akan membuat ketergantungan atau sakau,” ujar Kabid Rehabilitasi BNNP Sulut dr Rienne Wowiling MARS kepada harian ini.

Selanjutnya ada jenis 4-Klorometkatinona atau Blue Safir dan Snow White. Dijelaskan, jenis 4-klorometkatinona atau 4-CMC yang beredar di Indonesia berbentuk cair berwarna biru dengan kemasan jual bernama Blue Safir dan Snow White. Cairan Blue Safir memiliki senyawa turunan katinon yang bisa diubah dalam bentuk serbuk dan dapat dicampur minuman dan liquid rokok elektrik atau vape. Sehingga dapat menyebabkan pengguna merasa euforia, merasa senang, percaya diri, semangat, agresif, gelisah, pusing, panik, halusinasi, insomnia, bicara ngelantur, dan sebagainya. Efek yang ditimbulkan sangat berbahaya.

Ada juga Trihexyphenidyl (THD). Dikenal dengan Trihex, ini adalah obat untuk penyakit parkinson dan gangguan jiwa (skizoprenia). Dampak yang ditimbulkan apabila disalahgunakan seperti mual, rasa gelisah meningkat, konstipasi, gangguan penglihatan, mulut kering dan insomnia. Kemudian Somadril atau Carisoprosdol. Merupakan jenis obat penghilang rasa nyeri serta rematik pada tulang. Dapat meredam gangguan pernafasan pada penyakit asma. “Tetapi apabila disalahgunakan mengakibatkan kerusakan otak,” papar Wowiling.

Tramadol. Mengonsumsi ini ada efek terapi (mengobati) dan efek toksik (meracuni). Sejatinya, cara kerja obat ini hanya untuk anti nyeri saraf bagi orang setelah menjalani operasi, jatuh (kecelakaan) maupun salah urat (keseleo). Bila digunakan dosis berlebihan, menimbulkan efek samping yang sasarannya menyerang saraf pusat dan pernapasan yang sangat fatal. Efek sampingnya berpengaruh pada saraf pusat, daya ingat, fungsi sosial terganggu dan intelektual menurun. Lebih fatal menyerang saraf pernapasan yang berujung henti nafas (mati). Efek lain akibat mengkonsumsi tramadol secara terus menerus, akan terjadi muntah darah karena luka pada lambung.

Kemudian Ehabond, dampaknya jika disalahgunakan denyut jantung meningkat, mual dan muntah, halusinasi, mati rasa atau hilang kesadaran. Susah bicara atau cadel, kehilangan koordinasi gerak tubuh, kerusakan otak, mulai dari cepat pikun, kesulitan mempelajari sesuatu, dan parkinson, otot melemah, depresi, sakit kepala dan mimisan, keusakan saraf berupa hilangnya kemampuan mencium dan mendengar.

Menurutnya, bahaya lem Ehabond dan Komix sudah jelas. Katanya, di Manado paling banyak menggunakan ehabond kalangan remaja SMP, SMA, bahkan SD dan ada juga orang dewasa. Komix sendiri tidak termasuk dalam narkoba, bahan aktif komix Dextromethorphan adalah obat batuk, efek sampingnya mengantuk, namun ada warga yang biasa mengkonsumsi sampai sepuluh sachet. “Ini bahayanya seperti narkoba karena bisa mengganggu otak, dan ginjal,” tuturnya.  Namun, bila dikonsumsi sampai 50 sachet bisa mengakibatkan kematian. Karena bisa mengantuk kemudian tidur dan tidak bangun lagi,” jelasnya. Jenis narkoba yang mengandung zat adiktif yang berbau harum selain ehabond ada lem korea, katanya itu harus diwaspadai.

Terkait pasien, katanya yang rehab di Sulut sampai Juni 2017 ada 257 orang. Mulai dari pecandu narkotika, sabu, ganja, ehabond, somadril, Trihex. “Sekarang obat Trihex juga lagi maraknya. Obat ini biasnya untuk orang sakit jiwa tapi disalahgunakan,” pungkas Wowiling.

Menurut Kepala BNN Sulut Brigjen Pol Charles Ngili, angka pecandu yang direhab tahun 2016 turun signifikan dibanding 2015 lalu. Pada 2015 pecandu yang direhab mencapai 734 orang. “Turunnya angka ini menjadi bukti keseriusan BNNP dan jajaran yang berada di kabupaten dan kota dalam memerangi peredaran narkoba di Sulawesi Utara,” pungkas mantan Wakapolda Sulut.(neneng/gnr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here